Senin, 01 Oktober 2012

APAKAH INI CINTA TERLARANG ??


 BRAKKK ! ! ! ! !!.....
Rabu pagi yang cerah itu dikejutkan dengan suara ribut-ribut dari kantinnya Bu Asih. Suasana kantin yang asalnya riuh rendah, penuh dengan celotehan anak-anak SMKN 04 Kendal tiba-tiba mendadak menjadi sunyi senyap. Semua aktivitas yang mereka lakukan berhenti begitu saja. Pandangan mereka hanya tertuju pada seseorang cewek yang telah membuat keributan di tempat itu.
‘’Aduh neng gelis…jangan marah-marah di sini atuh, ini teh kantin, bukan tempat pelampiasan amarah, nggak enak diliat ama yang lain…’’. Tegur Bu Asih dengan logat sundanya yang kental
‘’Masa bodo !!!!’’. Ucap cewek itu sambil memukul meja.
‘’Iya degh neng..maapin ibu…’’. Ucap Bu Asih.
‘’Nasi goreng satu plus fruit tea !!!! cepat…gak pake lama !!!!’’. Ucap cewek itu.
‘’iya neng…’’. Ucap Bu Asih.

Cewek itu bernama Vena. Dia cantik, dan pintar. Dia anak SMKN 4 kelas XI RPL 1. Sebenarnya dia sangat ramah, tapi kalau dia marah…. sifat dan tingkahnya berubah 180 derajat. Cewek yang satu ini kalau lagi nggak ada masalah feminiiimmmm banget, tapi kalau sudah marah…. wahhh tomboy abiezzz !!!!. Cewek ini juga seorang atlet TaeKwonDo Kendal.
‘’Napa sih…pagi-pagi gene udah buat masalah ??? pasti ada something yang terjadi antara kamu dengan Willy..’’. Ucap Friska dingin.
‘’Dasar cowok kurang ajar !!! nggak ngerti perasaan cewek !!! egois !!’’. Ucap Vena, dan tanpa sengaja Willy yang berada di belakangnya mendengar ucapan Vena.
‘’Hei Vena… jangan seenaknya aja ngatain aku egois !!! kamu tuh yang egois !!!’. Ucap Willy.
‘’Aku ???.... gak salah tuh ??, bukannya kamu macari aku cuman gara-gara pengen nyari
tenar aja ??? udah degh… ngaku aja loe !!!’’. Ucap Vena.
‘’Emang !!!! kalo udah tau nggak usah buat ribut donk !!!... lagi pula sekarang aku nggak butuh kamu lagi kuq…’’. Ucap Willy.
‘’Heh.. kalian itu, nyadar donk !!! ini kantin bukan tempat berantem. Bikin malu aja !!!!. Kalian berdua tu OSIS,, emang ada OSIS yang nyontohin nggak baek dan nggak layak gini,, berantemnya gara-gara cinta lagi !!!! dasar !!!, Angga… cepet bawa temen kamu itu pergi !!!!’. Ucap Friska dengan tegas.
‘’Dasar loe… cowok kurang ajar !!!’’. Teriak Vena.
‘’Sudah !!! jangan ribut lagi !!’’. Ucap Friska.
Hari itu, semenjak ia putusan dengan Willy, lena lebih memilih diam. Padahal tadi pagi ia marah-marah gak karuan. Saat rapat OSIS tadi sore juga, ia lebih memilih menatap Friska, sahabatnya yang merupakan ketua bidang olahraga. Cewek yang tomboynya bukan main itu adalah atlet nasional karate. Rambutnya aja cepak, plus sikapnya tomboy bukan main. Friska balas menatap sahabatnya yang secara tidak langasung menyiratkan rasa kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.
‘’Baiklah teman-teman, kita tutup rapat ini. Selamat sore..’’. Ucap Fery, sang ketua OSIS.
‘’Udah donk sobat, jangan sedih mulu, cowok tuh banyak, nggak cuma Willy aja, gak enak tau di liat orang mukanya kusut kayak belum di setrika gitu.. bawa fun  aja lagi, hidup tuh jangan selalu memikirkan masa lalu, fikirkan aja apa yang akan kita jalani and kita lakukan dimasa sekarang and di masa yang akan datang’’. Ucap Friska menasihati Vena saat rapat telah usai.
‘’Hmm… iya juga sih..thanks ya sobat.. kamu sahabatku yang paling baik sedunia…’’. Ucap Vena.
‘’Pulang yuk… udah senja nihh.. Ntar malam kita hang out yukk.. aku yang jemput…’’. Ucap Friska.
‘’OK…’’. Ucap Vena.
Malam itu langit kota Kendal tampak cerah, bertabur bintang dan berhias bulan. Vena sudah sedari tadi siap, dan ia hanya menunggu kedatangan Friska. Ia mengenakan T-Shirt warna ungu kesukaannya, jins panjang ketat berwarna hitam, dengan rambutnya yang diikat membentuk seperti ekor kuda.

Tepat pukul tujuh malam, Friska akhirnya datang juga. Dengan gayanya yang tomboy, ia lebih mirip cowok ketimbang ia menjadi cewek. Baju lengan pendek berkerah, celana jins behel, rambut cepak, jaket hijau lumut kesukaannya dan sepatu kets putih, membuatnya terlihat sangat kelaki-lakian.
‘’Wowww…tomboy banget sih loe…’’. Ucap Vena pada Friska.
‘’Biasa aja kaleee.. nggak usah lebay kayak gittu… cepetan naik !!!’’. Ucap Friska.
‘’Ok degh..’’. Ucap Vena.
‘’Mmm… non, mau kemana ??’’. Gurau Friska pada Vena.
‘’Kemana aja degh pak…’’. Ucap Vena.
Segera saja Friska menghidupkan mesin motornya dan pergi meninggalkan komplek Perumahan Ramah Jaya, tempat di mana Vena dan kedua kakak perempuannya tinggal. Vena memang sejak awal masuk SMP sudah tinggal bersama kedua kakak perempuannya. Namun,tiap seminggu dua kali, kakak laki-lakinya yang merupakn kakaknya yang paling tua datang mengunjungi mereka. Vena merupakan anak keempat dari empat bersaudara,alias anak bungsu. Sedangkan kedua ortunya Vena bekerja di perusahaan keluarga milik mereka yang berada di Singapura, tempat kakeknya vena dari pihak ibu berasal.

Namun tanpa diketahui oleh Vena, sudah sejak lama sahabatnya, Friska, memendam sebuah perasaan terlarang. Perasaaan yang tidak bisa diterima oleh sebagian besar manusia. Diam-diam Friska menaruh hati pada Vena. Memang, Friska sejak dua tahun ini punya perasaan terlarang itu. Dan selama dua tahun ini ia mempunyai pacar seorang cewek.Tidak ada satu orang pun yang tahu kalo Friska adalah cewek lesbian, termasuk ortu dan sahabatnya, Vena.
Semenjak Vena putusan dengan Willy, Friska menunjukkan sikap yang jauh berbeda dari biasanya. Perhatian dan kasih sayang yang di berikannya kepada Vena melebihi perhatian dan kasih sayang sebagai sahabat.

Hari-hari mereka jalani berdua dengan penuh keakraban.Tanpa diduga, dan tanpa diketahui mengapa, perlahan namun pasti, Vena juga mulai merasakan perasaan yang tak wajar. Vena mulai ada rasa dengan Friska, seperti Friska menaruh perasaan kepada Vena. Cinta terlarang itu perlahan mulai menghiasi hari-hari mereka berdua.Hingga akhirnya,saat mereka sedang jalan-jalan di taman kota, Friska mengungkap semua perasaannya pada Vena.
‘’Ven….’’. Ucap Friska.
‘’Ya…’’. Sahut Vena.
‘’Seandainya aku mengatakan sesuatu yang mungkin nggak bisa diterima oleh akal sehat, apa kamu masih mau menjadi sahabatku ???’’. Tanya Friska.
‘’Pastinya donk.. emangnya ada apa Fris ???’’. Tanya Vena.
‘’Hmmm… sebenarnya aku cewek lesbian…’’. Ucap Friska setelah beberapa detik ia terdiam sambil menatap lekat-lekat cewek di depannya yang merupakan sahabatnya sekaligus orang yang di cintainya.
‘’Kamu….’’. Ucap Vena yang tak sanggup meneruskan perkataannya.
‘’Hhh…ya, itulah kenyataan tentang diriku yang selama dua tahun ini ku tutup-tutupi dari kalian semua termasuk dengan ortu ku. Sekarang, terserah kamu aja apa kamu masih mau bersahabat dengan aku’’. Ucap Friska.
‘’Aku tetap mau bersahabat denganmu…’’. Ucap Vena setelah ada jeda cukup panjang diantara mereka.
‘’Thank’s…’’. Sahut Friska.

Hening kembali muncul di antara mereka berdua.Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua. Mereka terlarut dalam fikirannya masing-masing. Hingga akhirnya…
‘’Aku menginginkanmu…’’. Ucap Friska pada Vena.
‘’Apa ?? maksud kamu apa ???’’. tanya Vena tak mengerti.
‘’Aku cinta kamu, sudah lama aku memendam perasaan ini…’’. Jawab Friska.
‘’Beneran ???’’. Tanya Vena tak percaya.
‘’Beneran…’’. Sahut Friska.
‘’Owh… aku… aku juga menginginkanmu… entah mengapa dan kenapa perasaan ini datang begitu saja dan mulai menghiasi hatiku…’’. Ucap Vena.
‘’So….’’. Ucap Friska.
‘’Kita pacaran !!!’’. Ucap mereka berdua bersamaan.

Keanehan gaya dan bahasa tubuh mereka lama kelamaan mulai di rasakan oleh teman-teman mereka. Sikap Friska dan Vena dari hari ke hari semakin berubah. Beberapa orang siswa dan siswi di kelasnya mulai curiga. Bahkan ada yang berani bilang kalo mereka cewek lesbian dan mereka sedang menjalin cinta terlarang. Cinta yang dibilang sangat terlaknat. Beberapa anak juga ada yang prihatin dengan mereka. Termasuk Ivan yang sudah sejak lama menaruh perasaan pada Vena. Namun Friska dan Vena tak sedikitpun menggubris semua itu.

Ivan sama sekali tak bisa membiarkan kedua sahabat itu mejalin cinta terlarang, karna ia tak mau kedua sahabat itu semakin susah untuk berhenti menjadi lesbian. Ia tak habis fikir dengan kedua cewek itu, masih banyak aja laki-laki ko’ malah pacaran ama sesama. Malam minggu yang basah itu, Ivan mengirim sms kepada Vena untuk menanyakan apa benar yang teman-teman mereka katakana, bahwa Vena dan Friska menjalin hubungan yang terlaknat itu. Ivan malah berharap kalau itu semua hanya gossip belaka. Namun betapa terkejutnya Ivan saat mendengar perkataan dan semua itu adalah benar apa adanya.
Ivan memutuskan untuk menelpon Vena. Deringan lagu Zivilia-Aishiteru terdengar dari ponselnya Vena.Vena yang asyik main facebook ria di notebooknya terkejut mendengar nada dering itu berbunyi. Nada dering yang sengaja ia programkan sebagai pertanda bahwa cowok yang ia sukai menelponnya.         

Sedetik kemudian ia memencet tombol hijau di hpnya. Kemudian mereka asyik mengobrol tentang apa yang terjadi pada diri mereka selama ini. Memang, sudah tiga bulan terakhir ini mereka nggak ada kontak lagi. Bukannya nggak ada kontak, tapi Vena tidak mau menjawab semua telpon dan sms dari Ivan. Karena Vena sakit hati mengetahui Ivan jadian dengan Liana. Hingga akhirnya Willy datang menghapus luka di hati Vena. Namun bukannya menghapus luka di hatinya Vena, tapi Willy malah menjadikan Vena sebagai boneka yang ia manfaatkan untuk memperoleh ketenaran di SMKN 4 Kendal.
Sedetik kemudian Vena terdiam, tak disangkanya kalimat itu terucap dari mulut seorang Ivan. Kebimbangan merasuk dalam fikirannya Vena. Sebenarnya ia masih ingin melanjutkan hubungannya dengan Friska, tapi di sisi lain ia sangat masih mencintai Ivan. Selain itu, ia juga tau bahwa yang selama ini dijalaninya dengan Friska adalah suatu perbuatan yang dilarang oleh hokum agama dan takdir. Kehadiran Ivan di malam basah itu memberikannya kedamaian sekaligus kebimbangan.
‘’Aku tunggu jawabanmu besok…good night’’. Ucap Ivan.
Setelah mengakhiri sambungan telponnya dengan Ivan, Vena segera menelpon Friska untuk memberitahukan semua itu.
‘’Halo say… ada apa ???’’. Ucap Friska.
‘’Aku nggak tau harus milih kamu ato Ivan, barusan Ivan nembak aku..’’. Ucap Vena.
‘’Up to you lah mau milih siapa, semua tergantung sama kamu’’. Ucap Friska.
‘’Mmm… sudah aku putuskan, kita akhiri semua ini sampai di sini .Cinta ini adalah cinta terlarang. Maaf ya ini semua adalah yang terbaik…’’. Ucap Vena.
‘’Ya…met malam’’. Ucap Friska langsung menutup pembicaraan mereka.
Sesaat kemudian,masuk sms dari Friska.

To : Vena
From : Friska
Ini akku, bukan mau ku. Inilah akku yg sbenarnya. Klo benar akku m’punyai prasa’n t’larang ini knp ?? ap klian rugi ?? Akku thu cinta yg k tu pux ini cnt terlarang.Tp klian gk berhak m’atur hdup q. Krn akku yg m’jlani smua ini, bukan klian. Smua hanya bsa m’nyalahkan q tanpa bsa m’ngerti prasaan q.Inilah akku.’’AKU CEWEK LESBIAN’’.

Sejak saat itu,Vena lebih memilih diam daripada bertegur sapa dengan Friska. Ia sedih sekaligus bangga. Sedih karena ia harus mangakhiri hubungannya dengan Friska, bangga karena ia tahu, keputusan yang ia ambil ini sangat benar .Friska juga memilih untuk diam. Ia nggak tahu, mau di kemanakan hubungannya dengan Vena.
Hujan lagi-lagi mengguyur kota Kendal malam itu. Suasana dingin yang menusuk tulang membuat Friska enggan kumpul-kumpul dengan teman-temannya untuk main bilyard. Ia hanya duduk termenung di depan meja belajarnya sambil menatapi foto-foto saat ia masih normal seperti cewek lainnya. Ia kemudian mengambil foto yang sangat di bencinya dari laci meja belajarnya.

Ingatan Friska kembali kemasa lalunya. Di saat ia masih bisa merasakan indahnya pacaran dengan lawan jenisnya .Namun semua itu berubah setelah kejadian yang sangat membuatnya trauma itu terjadi. Kejadian yang terjadi diluar kehendaknya dan tanpa
sepengetahuannya. Sejak saat itu ia bukan lagi seorang wanita suci. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja ia menemukan dirinya di kamarnya tertidur tanpa busana setelah ia berjalan-jalan dengan Deni, kakak kelas XII-TKR 2, yang baru saja lulus tahun ini. Padahal seingatnya, ia masih berada di taman bersama Deni. Sejak saat itulah ia berubah drastis seperti ini.

Lantunan lagu The Virgin-Cinta Terlarang berbunyi dari ponselnya Friska. Ia mengambil hp nya dari kantong celananya. Dan alangkah terkejutnya saat ia tahu Vena menelponnya. Sedetik kemudian, Friska meletakkan kembali foto laki-laki yang sangat di sayanginya sekaligus sangat dibencinya di dalam laci meja belajarnya. Dan ia segera mengangkat telpon itu.
‘’Halo…’’. Terdengar suara cewek di seberang sana.
‘’Ya… ada apa ??’’. Ucap Friska dingin.
‘’Maafin aku…’’. Ucap Vena.
‘’Kamu nggak salah kug…’’. Ucap Friska.
‘’Mmh…. kita masih sahabatan kan ???’’. Tanya Vena.
‘’Ya… maaf aku lagi sibuk, aku janji suatu hari nanti aku akan berubah…’’. Ucap Friska dan ia segera memutuskan hubungan telponnya dengan Vena.
‘’Fris….’’. Ucap Vena, namun sayang, sambungan telponnya telah terputus.
Vena tertegun setelah mendengar ucapan Friska.’’Suatu hari nanti akku akan berubah…’’,apa maksudnya ???.Ia kembali menelpon Friska. Tapi ternyata nomernya Friska tidak aktif.
Langit Kota Kendal masih saja menangis. Kilat dan petir manghiasi malam kelabu itu. Namun di balik semua itu, seorang cewek tomboy tampak tersenyum. Hari ini ia mengalami suatu kejadian yang sangat berkesan di hatinya. Akhir dari percintaan terlarangnya dengan sahabatnya. Dan cewek itu rupanya telah memutuskan untuk pergi dari semua kehidupannya di Kendal.

***

Vena kaget setengah mati mengetahui Friska akan pindah ke Singapura, menyusul mamanya yang sedang tugas di sana. Singapura adalah kampung halamannya Friska, ia tinggal di Kota Kendal karena mengikuti papanya yang pindah tugas di Indonesia.Vena baru saja mendengar kabar itu dari Ivan, cowok yang sekarang ini menjadi pacarnya. Memang sejak kemarin Friska tidak hadir sekolah. Saat Vena menanyakan alasan ketidak hadirannya di sekolah melewati telpon, ternyata nomernya masih tidak aktif. Tapi ia tak menyangka bahwa Friska akan kembali ke kampung halamannya. Friska menatap rumahnya dengan sedih .Rumah itu penuh kenangan bersama ia dan Vena. Setelah puas menatap rumah kesayangannya, ia segera menyusul papanya yang telah menunggunya di mobil.
Tepat pukul 15.00 Friska sampai di bandara. Kurang lebih setengah jam lagi ia akan berangkat. Ia teringat pada sahabatnya sekaligus orang yang di cintainya. Ia ingin sekali bertemu dengan Vena untuk yang terakhir kalinya. Sedetik kemudian, Friska mengambil hp nya dan menelpon Vena.

Vena terkejut melihat sebuah nama yang sangat ia sayangi menelponnya. Ia segera mengangkatnya, Berharap agar apa yang dikatakan Ivan bukanlah sebuah kenyataan.
‘’Kalau mau bertemu aku untuk yang terakhir kalinya, segera saja ke bandara sekarang juga, atau selamanya kamu tidak akan bertemu aku lagi…’’. Ucap Friska.
‘’Fris…’’. Ucap Vena tak sanggup menahan kesedihan.
‘’Sore…’’. Ucap Friska segera mematikan telponnya.
Vena segera mengambil jaketnya dan dengan penampilan yang sederhana, ia segera berangkat menuju bandara.

Sesampainya di bandara, Vena bergegas pergi ke bagian informasi dan mendapati Friska sudah menunggu di sana. Rasa senang sekaligus sedih terpancar dari wajah mereka berdua.
‘’Fris… kenapa kamu pergi…’’. Ucap Vena sambil meneteskan air mata.
‘’Papaku udah selesai tugas, jadi mau nggak mau aku harus kembali ke Singapore.’’. Ucap Friska.
‘’Ohh… Friska… kenapa ini semua harus terjadi…’’. Ucap Vena sambil menangis di balik pelukan Friska. Saat itu gelora cinta terlarang mereka kembali merasuk kedalam jiwa. Rasa kehilangan yang sangat berat hadir dalam hati mereka.
‘’Aku masih menginginkanmu…’’. Ucap Friska.
‘’Aku juga’’. Ucap Vena.
‘’Apa kamu mau kembali…’’.
‘’Tidak,itu tidak mungkin,, perasaan kita ini perasaan yang terlarang, kita tidak akan mungkin kembali walaupun sebenarnya aku juga ingin kamu…’’. Ucap Vena sambil menangis.
‘’Ya…aku mengerti…’’. Ucap Friska dingin.
‘’Udah akh… jangan nangis… cengeng banget sih….’’. Ucap Friska pada Vena.
‘’Biarin !!!’’. Ucap Vena.
‘’Nih buat kamu…’’. Ucap Friska sambil memberikan kalung dan sebuah cincin bertuliskan F dan V.
‘’Cincin dan kalung ini jangan sampai hilang, ntar kalo kita ketemu lagi dan aku tau kalo kalung and cincin itu hilang… Awas kau !!’’. Sambung Friska.
‘’Please…. jangan pergi…’’. Lirih Vena.
‘’Mungkin ini yang terbaik…. selamat tinggal…’’. Ucap Friska.
Dan untuk terakhir kalinya mereka kembali berpelukan. Air mata Vena mengalir semakin deras, hingga membasahi punggungnya Friska. Dan setelah puas berpelukan, Friska pergi meninggalkan Vena, menyusul papanya yang sudah menunggunya di dekat pintu masuk.
Friska kembali menoleh kebelakang sebelum memasuki pintu masuk. Ia masih melihat seorang cewek menangis melepas kepergiannya. Friska melontarkan senyumnya, namun air mata cewek itu malah semakin mengalir deras. Dan Friska kembali melangkah memasuki pintu masuk.
‘’Maafkan aku… inilah yang terbaik untuk kita, semoga kamu bahagia dengan cowok lain…’’. Ucap Friska dalam hati.
‘’Sayang…. ku tak ingin kau pergi….’’. Ucap Vena dalam hati.

*** 
Di suatu Negara nan jauh di sana, seorang cewek tomboy tampak berdiri menatap keluar dari balik daun jendela kamarnya. Di sana, hujan turun dengan sangat lebat.
‘’Semoga kamu bahagia di sana tanpa diriku. Aku ‘kan tetap menjaga perasaan terlarang ini untukmu….. karna aku mencintaimu. Aku tak peduli perasaan yang ku punya ini terlarang. Sesungguhnya hati ini sangat berat meninggalkanmu. Tapi inilah yang terbaik untuk kita’’. Ucap Friska.
Langit Kota Kendal tak secerah biasanya. Rintik-rintik hujan menghiasi kota itu. Seakan ikut bersedih melihat kedua sahabat itu berpisah.
‘’Aku merindukanmu… cinta terlarang ini akan ku jaga sampai kita bertemu kembali’’. Ucap Vena sambil memandangi dedaunan yang basah akibat terkena tangisan langit malam ini.

***

~Sebuah perasaan akan datang dengan sendirinya .Cinta terkadang dapat menjerumuskan. Jangan menganggap seseorang yang mempunyai perasaan terlarang seperti sampah yang harus di jauhi, tapi buatlah dia menjadi sadar dengan cintanya itu. Mengertilah pada perasaan mereka. Dan buatlah mereka mengerti pada kodrat hidup yang sebenarnya~
 #Cerpen ini hanya imaginasi semata .. semoga anda menyukainya .. makasii :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar